Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2020

Cerpen: Menjemput Asa

Menjemput Asa

“Jangan sok-sok an deh, kamu kan hanya anak penjual atap rumbia “
Begitu kata tetangga yang terkenal paling kaya di daerahku. Rumahnya berbeda dengan tetangga sebelah kiri, kanan, depan dan belakangnya. Rumah bercat biru dengan ornamen modern itu berdiri gagah menjulang tinggi diantara gubuk-gubuk reot disekelilingnya. Halaman yang luas, dipenuhi dengan taman bunga yang tertata rapi. Di garasinya yang luas berjejer bebrapa mobil mahal dari Yaris s, fortuner dan alfard. Belum lagi motor yang diperuntukann bagi anak-anaknya yang masih sekolah di SMP dan SMA.

Rumahku dan rumahnya terpisah oleh jalan raya Balaraja Kronjo. Satu-satunya akses yang dapat menghubungkan transportasi dari desaku menuju kota. Jalan inilah yang dijadikan orangtuaku untuk mengangkut atap rumbia yang telah dipesan oleh pelanggannya. Biasanya ayah mengantarkan pesanan atap rumbia setelah menjual sayur hasil beruhun di sawah tetangga. Kadang ayahku menjadi penjual buah-buahan yang dibeli dari para pemilik pohon buah-buahan di sekitar kampungku. Dan dijalan ini pulalah setiap hari aku harus berdiri menunggu kendaraan umum yang mau mengangkut anak sekolah dengan bayaran yang sangat murah. Seratus rupiah sekali jalan.

“Gak  mungkin kamu bisa sekolah  di Manba’ul Hikmah”. lanjutnya

Darahku mendidih, dadkubergemuruh. Kutahan tetesan air yang mulai merembes diantara ujung mataku. Tekadku membulat untuk membuktikan bahwa aku dapat mewujudkan cita-citaku bersekolah disana. Sekolah ini adalah sekolah swasta yang berada di lain kecamatan dengan tempatku tinggal. Sekolah dan seklaigus pesantren ini, terletak di kecamatan kresek. Tepatnya di desa Renged. Desa yang asri, sejuk penuh dengan pemandangan sawah yang indah. Ia menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dan ilmu umum dengan paripurna.
Yayasan ini dikelola oleh dua orang kiyai, kakak beradik yang disegani dikabupaten tangerang. Beliau adalah KH. Mahmud Nawawi dan KH Qolyubi. Mereka masih keturuan ulama Banten yang terkenal di dunia internasional, yaitu Syeikh Nawawi al Bantani. Banyak anak-anak berasal dari provinsi lain juga. Ada yang dari Lampung, Palembang bahkan Jakarta yang katanya menjadi tempat pavorit untuk menuntut ilmu. Waktu itu, aku memang baru lulus SD dan ingin meneruskan ke Sekolah Menengah Pertama.

Di desaku, jarang sekali anak-anak yang meneruskan sekolah setelah lulus SD. Mereka akan membantu orangtua membajak sawah, atau meneruskan ke pendidikan non formal yaitu pesantren. Bagi yang perempuan kadang dua atau tiga tahun setelah lulus Sekolah Dasar, mereka langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Pendidikan formal adalah nomor ke 100 dan tidak dianggap penting.

Aku mengemukakan niat kepada ayahku bahwa aku ingin meneruskan ke sekolah menengah pertama negeri di kecamatanku. Aku berfikir, kalau disekolah negeri, maka bayarannya juga akan murah. Setidaknya mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan ayah. Tapi ayah menolaknya, dan menginginkan aku supaya masuk ke sekolah dan sekaligus pesantren. Dan jatuhlah pilihan ayah ke sebuah sekolah sekaligus peasntren Yayasan Manba’ul Hikmah. Sekolah dan pesantren yang cukup terkenal dan mempunyai peserta didik yang jumlahnya ribuan. Baiaya yang dikeluarkanpun agak mahal, bila dibandingkan dengan sekolah negeri. Tapi ayah meyakinkanku bahwa, kalau aku serius ingin sekolah disana, sampai daraha penghabisan ayah mencari uang untuk membiayai pendidikanku.

Namaku Heri. Aku dilahirkan di sebuah desa yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani tadah hujan......(bersambung)
  

Sabtu, 11 April 2020

Cerpen: Pertolongan Maut


Pertolongan Maut
Diangkat dari kisah nyata dengan beberapa adaptasi tokoh dan cerita.

Perkenalkan namaku Hary. Lengkapnya Hary Tasyu Suripto. Aku lahir dari keluarga yang berada. Aku mempunyai dua orang adik. Satu laki-laki yang sedang kuliah semester satu di fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada. Satu lagi perempuan yang sekarang masih kelas satu SMA Negeri di kota Tangerang. Aku sendiri sekarang sedang menulis skripsi sebagai syarat kelulusanku di di sebuah Universitas Negeri di Bandung.
Ayahku seorang pengusaha. Ayah pengusaha ekspor impor minyak mentah. Beberapa kapal Tanker ayah punyai untuk mendukung kelancaran usahanya. Relasinya yang luas dari RT sampai Menteri membuat beliau tidak kesusahan dalam menjalankan bisnis minyaknya. Semakin hari bisnis ayah semakin menggurita karena mendapat dukungan dari para pejabat yang punya akses kesana. Pokoknya mudahlah. Apalagi di zaman sekarang yang katanya korupsi makin susah, tapi koruptor makin banyak dan semakin bebas berkeliaran. Dan bukan bisnis ayah yang akan ceritakan disini. Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

Ibuku seorang Dokter. Sama seperti adikku, ibuku dulu kuliah di Universitas Gajah Mada. Beliau wanita yang yang cerdas. Selain cerdas beliau juga mempunyai wajah yang cantik. Beliau mengambil kuliah kedokteran. Beliau pertama  bertemu dengan ayah, ketika beliau sedang menajdi koas disalah satu Rumah Sakit. Program di ini peruntukkan bagi dokter muda yang akan diambil sumpah kedokterannya sebelum dia dinyatakan lulus. Hal ini memang kewajiban yang harus ditunaikan oleh para calon dokter.  Tidak mungkin ada seorang dokter yang tidak pernah merasakan stase atau koas kedokteran. Bisa pastikan semua dokter pasti akan mengalami yang namanya pengabdian kepada masyarakat ini sebelum terjun di dunia medis yang sebenarnya. Program di laksanakan untuk mencetak dokter-doketer handal yang siap pakai dimasyarakat dengan mengutamakan sumpah janji kedokterannya.

Pada masa stase ini, calon dokter selalu didampingi oleh seorang dokter senior yang sudah ahli di bidangnya. Sehingga seorang koas akan selalu ada dimanapun dokter senior itu berada. Seperti amplop dan perangko. Dia harus mengikuti dan menyerap ilmu apapun yang dikeluarkan oleh sang dokter senior. Kebetulan pemilik rumah sakit itu adalah papa dari ayah saya.

Ayahku terpesona melihat kecantikan ibuku. Ayah yang sedang menemani papahnya melihat-lihat perkembangan rumah sakit, langsung jatuh cinta pada pada pertama. Dan gayung pun bersambut. Ibuku juga merasakan getaran yang sama. Waktu itu, ibu tidak tahu kalu ayah adalah anak pemilik Rumah Sakit tempat ibu melaksanakan koas.

Kini ibuku praktik di Rumah Sakit yang sama. Beliau menjadi dokter umum disana.
Hingga suatu hari terjadilah kegaduhan yang luar biasa di Halaman Rumah Sakit. Seorang ibu, berteriak-teriak meminta pertolongan tenaga medis. Seorang satpam dan tiga orang perawat perempuan, dengan sigap membantu korban. Dari dalam mobil terlihat seorang ABG yang terkulai lemah. Darah mengucur dari kepalanya. Tangan dan kakinya patah. Terlihat tulang keringnya keluar merobek kulit yang membungkusnya. Sementara tangannya tidak bisa digerakkan.

Ibu yang waktu itu mendapat giliran dokter piket di IGD, bertanya terlebih dahulu kepada ibu si pasien untuk segera melakukan tidakan perawatan. Sesuai standar penanganan awal pasien dimasa pandemi corona ini, ibu kemudian bertanya kepada ibunya pasien. Dan diawal gerbang pertanyaan ini juga sekilas sudah diutarakan oleh satpam dan perawat.
“Ibu anak ibu kecelakaan dimana?”
“Di jalan tol yang belum dipergunakan. Dia bersama lima belas orang temannya balpan liar disana” Jawab si ibu sambil terisak
“Saya tidak tahu, kalau dia ikut balap liar. Dia terjatuh karena tersenggol lawan balapnya”
“Itu daerah mana bu?”
Si Ibu pasien kemuadian menyebutkan satu nama tempat yang memang biasa ramai di gunakan anak-anak baru gede untuk melakukan balapan liar
“Bu, apakah sebelum kecelakaan anak ibu bepergian ke suatu tempat?”
“Ga bu dokter”
“Apakah anak ibu perhubungan dengan orang dari luar daerah ibu”
“Ga juga bu”
 “Ada keluarga yang baru pulang dari luar kota bu?”
“Ga bu”
 “Apakah anak ibu mengalami batuk, demam sesak nafas sebelum kecelakaan?"
“Ga juga bu dokter. Tolong segera tangani anak saya bu dokter” Ratapnya.
“Baiklah ibu, kami akan segera melakukan tindakan”.
“Iya bu dokter. Berikan yang terbaik untuk anak saya”.  Harapnya.
“Mohon tenang dan selalu berdoa, semoga anak ibu dalam keadaan baik-baik saja”
“Terimakasi, bu dokter”.  Sejuta harapan di letakkan dipundak ibuku.

Ibu dan beberapa perawat segera berjibaku memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Penanganan awal dilakukan. Ibu memeriksa pernapasan, denyut jantung, dan tekanan darah. Kemudian melakukan resusitasi jantung paru (CPR), yaitu dengan menekan dada dari  luar dan memberikan bantuan pernapasan. Penyangga leher dan tulang punggung dipasang. Untuk mencegah syok hipovolemik akibat pendarahan, pasien kemuadian diberikan cairan infus.

Setelah melakukan pertolongan pertama, ibu segera menghubungi dr Atik Mujiastuti, SpBS, FFNS. Beliau adalah doketer spesialis syaraf, teman sejawat yang juga teman kuliahnya dulu. Perdarahan dari patah tulang terbuka yang belum juga berhenti membuat ibu memutuskan konsultasi ke dr.spesialis orthopaedi, yaitu dr. Oe Wang Ting seorang dr keturuan china. Setelah diperiksa lebih lanjut dr. Atikpun menyarankan untuk melakukan operasi emergency/Cito.  Operasi tindakan bedah yang dilakukan dengan tujuan life saving pada seorang pasien yang berada dalam keadaan darurat. Perawatpun segera menghubungi ibu pasien menberikan lembar persetujuan pelaksanaan operasi.

******
Kriiing....kriiing.....kring
Bunyi telepon berdering ruang kantor ibu. Sudah beberapa minggu ini ibu memang tidak pulang-pulang untuk melaksanakan panggilan tugasnya sebagai dokter di masa pandemi ini. Kamipun sudah memaklumi itu dan sepenuhnya mendukung keputusan ibu. Ibu segera mengangkat telepon. Semenit kemudian wajahya berubah pucat.
"Apa? Jadi, pasien ABG korban balap liar itu positif covid-19?"
Tubuh ibu lunglai, tak berdaya. Bagaikan tanpa tulang tubuh ibu melorot kebawah. Ibu terduduk lesu. Tak ada semangat membara lagi di rona mukanya. Netranya menggambarkan kecemasan yang maha dahsyat.  Pasien ditangani kemarin, yang diperiksa dengan seksama segala cidera pada tubuhnya ternyata positif menderita Covid-19. Masih terbayang dibenak ibu, ketika sebelum penanganan tindakan screening awal covid-19 sudah dilakukan, dan hasilnya tidak ada kecurigaan ke arah sana.
Untuk memastikan itu, maka pihak Rumah sakitpun kembali memanggil ibu si korban dan dimohon kejujurannya. Si Ibupun akhirnya mengaku bahwa paman pasien baru pulang dari singapura dan sempat bertemu dengan korban beberapa kali sebelum kecelakaan terjadi. Bahkan pernah jalan-jalan dan makan bersama. Rapid testpun dilakukan, hasilnya membuat semua shock, positif! Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Duka itu tak hanya menimpa pasien dan keluarganya. Tapi juga menimpa Ibu, dr. Atik, dr. Oe, petugas kesehatan dan lima belas orang lainnya. Dan tentu tidak sampai disini. Keluarga mereka juga kan merasakan dampak yang luar biasa.

Ibu tak menyangka, ABG korban balap liar dan meninggal dunia itu ternyata positif Corona. Bisa dibayangkan kepanikan yang luar biasa dirumah sakit itu. Satpam, Ibu, perawat, dr Atik Mujiastuti, dr. Oe, penata anstesi dan lima belas orang lainnya, kini menjadi ODP. Mimpi burukpun akhirnya menjadi kenyataan. Ibu dan orang yang terlibat dalam pengangan pasien ABG balap liar dikarantina. Mereka harus diisolasi selama 14 hari. Segala kengerian, ketakutan, kepanikan dan keputus asaan menjadi satu dalam nafas ketidak pastian. Berpisah sementara itu adalah pilihan terbaik. Disebuah paviliun dibelakang Rumah Sakit, delapan belas orang di karantina, dan delapan belas juga keluarga yang harus ditinggalkan. Inilah jalan yang harus ditempuh. Mau tidak mau, Allah telah memilih mereka yang menjadi pejuang melawan corona, kini harus terpapar makhluk tak kasat mata yang menyeramkan itu.

Hari-haripun dijalani dengan ketidakpastian. Hanya doa dan harapan yang masih tersisa. Semoga saja Allah memberi kesabaran kepada mereka. Di hari ke-5 karantina, dr. Oei mengeluh demam, batuk dan sesak nafas. Usianya memang yang paling tua diantara tenaga kesehatan dan petugas rumah sakit, 59 tahun. Ditambah lagi penyakit diabetes menjadikan beliau yang paling rentan. Dokter Oe pun diperiksa dan diswab, dirawat di ruang isolasi. Keadaannya semakin memburuk, setelah itu ibu dan rekan-rekannya tidak lagi mendengar kabar dr. Oe.

Keadaan ini tentu saja membuat mereka bertambah stress, menangis bahkan ada yang tidak mau makan dan mengurung diri di kamar. Ibu terus memompakan semangat  kepada rekan-rekanya;
"Kita harus kuat, harus makan makanan bergizi, minum vitamin dan olahraga”. Begitu yang selalu ibu katakan.
“Tapi aku takut. Aku khawatir dan selalu memikirkan anak-anakku di rumah”. Kata Surtini perawat yang dulu pertama kali memberikan pelayanan kepada korban dan ibu korban.
“Iya saya mengerti. Sudahlah serahkan semua kepada Allah dan orang-orang yang dirumah”
“Iya mari Kita tingkatkan daya tahan tubuh kita. Hilangkan kekhawatiran. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan separuh kekuatan tubuh kita hilang”. Kata dr. Atik.
“Kita lawan covid-19 bersama-sama. Sehat lahir dan bathin, itu yang kita perlukan.
Ada keluarga yang menanti di rumah". dr Atik menambahkan.

Dengan penuh optimis ibu selalu memberi motovasi bahwa mereka pasti bisa melalui wabah ini dengan selamat dan berbahagia. Kami keluarga yang ditinggalkan selalu berdoa, semoga ibu dan rekan-rekannya selalu dalam lindungan Allah dan segera diberi kesahatan. Kami rindu untuk berkumpul kembali bersama mereka.
*******
Untuk kalian yang masih sehat, tolong bantu para tenaga kesehatan. Tetap tinggal di rumah. Stay at Home. Ning umah wae. Di bumi wae. Ngajedog sateh kata anak sekarang. Mereka sudah kewalahan merawat pasien. Jumlah mereka tidak sebanding dengan jumlah orang-orang yang terus terinfeksi virus ini. Terus dukung dan berikan doa yang tulus kepada para tenaga kesahatan, semoga Allah selalu memberi kesabaran dan kesehatan kepada mereka. 

Bagi mereka yang sudah merasakan gejala ringan serangan virus ini seperti:
Hidung beringussakit kepalaBatukSakit tenggorokanDemamMerasa tidak enak badan

Tetap dirumah. Isolasi diri kalian. Jangan menjadikan diri kalian sebagai pembawa virus bagi orang disekitar kalian. Jangan edgois. Jaga keluarga. Jaga sahabat. Jaga tetangga. Jaga warga sekitar kita.

Kemudian   untuk melawan gejala-gejala itu lakukan tindakan-tindakan umum seperti dibawah ini:

Minum obat yang dijual bebas untuk mebgurangi rasa sakit, demam, dan batukGunakan pelmbab ruangan atau amndi air panas untukm meredakansakit tenggorokan dan batukPerbanyak istirahatPerbanyak asupan cairan tubuhMinum vitamin

Jika merasa khawatir dengan gejala yang dilami, segera hubungi pentyedia layanan kesahatan terdekat atau hubungi call center layanan Covid-19 di 112, 119 atau 081388376955


*****
Untuk para tenaga kesahatan yang sudah berjuang dengan sepenuh tenaga, dan akhirnya mereka harus meninggalkan tugasnya untuk selama-lamanya, semoga Allah, Tuhan Yang Maha Bijkasana, Tuhan Yang Maha Pengampun menempatkan mereka di dalam keridaanNya. Dan bagi pemerintah dan para ulama terimakasih sudah memberikan informasi bagi masyarakat. Saya berharap kepada pemerintah untuk memberikan pelayan terbaik kepada para tenaga kesehatan.Berikan tempat yang layak dan makanan yang sehat. Berikan “penghargaan” kepada mereka yang sudah wafat, tidak hanya dengan ucapan turut berduka atau berbela sungkawa.

Semoga wabah pandemi ini segera musnah dari bumi Nusantara.









Kamis, 09 April 2020

Cerpen: Perempuan di Ujung Senja


Perempuan di Ujung Senja
Diujung senja bersama lembayung merah yang indah, kutunggui harapan yang masih tersisa. Terselip sejuta asa yang masih menggantung di langit-langit senja. Seperti baru kemarin aku masih berada dalam belaiannya. Sejatinya perasaan yang amat sangat wajar dan manusiaw, bila kenangan itu kembali menggelayuti rasaku. Aku sadar benar, rasa sakit dan kecewa itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena harapan tinggi yang telah kugantungkan sendiri.

Aku sudah berusaha memahami tentang banyak hal. Merubah, menerima, memahami, dan membuatnya bahagia. Aku berjuang untuk mendapatkan asa tentangmu. Dia menggelayuti dalam derap langkahku, detak jantungku dan helaan nafasku. Zikirku seakan dirimu. Hilang sudah aku ku dalam dirimu.

Kini jatuhku membawa luka. Kenangan dan sisa-sisa asa itu membuatku tersungkur dalam nestapa. Imajinasikupun tak sanggup merangkai kata kedukaanku. Aku tak sanggup menangkap sinyal bahagia yang menghampiriku. Pikirku betapa harap itu tak selalu terwujud. Bayu yang mendekat tak kuanggap pesona. Kesejukan belaiannya tak mampu meruntuhkan dukaku. Ternyata harapku tak berbanding lurus dengan mampuku. Aku tertekan, lemas, dan lumpuh asa.Tiap lakukumengarahkan pada kegagalan. Mampuku tak wujud.  

Aku mati dalam sajak penyesalan. Pikirku hidup memang tak lepas dari masalah. Hidup bagikan pedal sepedah yang dikayuh. Kadang diatas dan kadang dibawah. Semangatku terusik. Ketika gemuruh ombak batin tak menentu dan kita merasa kehilangan harapan dan daya, berpikirlah bahwa: "Apakah keterpurukan adalah akhir perjalanan hidup?". Begitu kata Avanty, desainer kondang papan atas indonesia.     


Aku berjuang untuk bertahan. Hidupku tidak hanya sampai disini.Kalaupun asaku hilang tertelan duka, aku harus mengubahnya menjadi tekad: “Aku bisa merubahnya lebih baik”. Aku perempuan dititik nol. Aku harus bersyukur bahwa Allah masih memberiku kehidupan. Mungkin inilah cara Allah untuk mengurku. Aku terngiang-ngiang perkataan Stephen Hawking: “Andaikan harapan seseorang diturunkan hingga titik nol, orang akan benar-benar menghargai semua yang dia miliki saat ini". Aku baru sadar, aku punya Tuhan.

Saatnya bersimpuh dihadapanNya. Bersyukur atas nikmatNya. Serahkan jiwa raga, ikhlas terhadap asa yang tersisa. Aku hanya bisa berharap, Allahlah penentunya. Ku kembalikan diriku ke titik nol. Ku sisir kembali masa laluku, banyak sudah yang kucapai. Allah begitu baik terhadapku. Aku tak boleh patah arang. Aku sadar setiap orang ditakdirkan menghadapi masalah dan bahagia yang berbeda-beda. Memaafkan bukan hanya memberi maaf kepada orang lain, tapi juga berdamai dengan diri sendiri. 

Kini Matahariku tenggelam, terbungkus gelap gulita. Malam merayap kelam dan pekat. Lusa ada harap dia akan membangunkanku dengan kehangatan cahayanya. Dan sampai hari ini, dipenghujung senja aku masih setia dengan penantian itu.


Cerpen: AISHA


AISHAH
Aishah wanita engerjik yang selalu meramaikan suasana. Entah sejak kapan ia masuk dalam kehidupanku. Sungguh kehadirannya membuatku merasa berbeda. Semangatnya yang menggebu menular lewat celah-celah hati yang mulai membeku. Celotehnya selalu mewarnai hari-hariku yang telah meleleh oleh polahnya. Senyum di ujung bibirnya membuat pria merasa nyaman dan riang berasa disisinya. Bila tertawa, seakan dia melepaskan semua beban yang selam ini menghimpitku. Bebas dan terbang entah kemana. Dan aku tidak mau itu dinikmati olah pria lain. Tapi siapa diriku yang baru saja mengenal dirinya sudah terlalu banyak berharap.
Ah entahlah ada apa dengan diriku.
Aku selalu terbayang bagaimana ia begitu antusias jika dihadapkan pada suatu masalah. Ia berusaha meyelesaikannnya dengan easy going. Aishah perempuan supel yang mudah memaafkan kesalah-kesalahan temannya. Dia bukan tipe pendendam. Dia cenderung suka berdamai dengan kedaan. Dia tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal hal yang sifatnya tidak penting dan tidak suka membebani pikirannya dengan energi negatif. Tapi dibalik itu dia mempunyai sifat yang lembut. Dan kelembutannya bagaikan air yang dapat menghancurkan dan luluh lantakan benda-benda yang menghalangi jalannya. Bagaikan tsunami yang menerjang Aceh dia akan terus bergerak menggapai impiannya. Netranya memancarkan semangat yang luar biasa. Dan aku terpesona.
Sungguh hari-hariku kini berada dalam kungkungan bayangannya. Rindu kan menyeruak bila sedetik saja tak mendengar celotehnya. Aku seakan berada dipersimpangan takdirku. Aku ingin mengungkapkannya, tapi aku tak sanggup hatiku membeku kembali. Ini bukan semacam rasa lain yang dulu pernah kurasa ketika cinta pada pandangan pertama. Bukan pula karena aku laki-laki pengecut yang tidak punya nyali untuk mengatakannya. Sekali lagi, aku tak sanggup hatiku membeku kembali.
Aku merasa dia telah membebaskanku dari jeratan-jeratan labirin luka yang dulu menghinggapiku. Kehadirannya menghapus sejuta kenangan pahitku. Bukan karena dia cantik aku mengaguminya. Ya walaupun dia memamg cantik. Kulitnya putih bersih berseri. Bibir  tipis kemerahan. Bola mata bulat yang di hiasi dengan bulu mata yang lentik. Pipi kemerahan dengan lesung pipit menambah kecatikan alaminya. Hidung mancung mempesona dan menggemaskan. Sementara alisnya yang panjang dan indah serasi dengan wajahnya, menandakan kepribadian yang luwes, lemah lembut, elegan dan penuh gairah dalam kehidupannya. Tapi rasanya bukan itu yang membuat hatiku terpenjara olehnya. Aku yakin kali ini aku berusaha mengerti, bahwa cinta tumbuh dari banyaknya pengertian dan pelajaran darinya. Orang bilang bahwa perempuan perlu banyak memahami laki-laki dan aku mendapatkannya. Aishah darinya aku merasa nyaman.    
Kali ini bukan semacam cinta pada pandangan pertama. Sebab sebagai laki-laki aku dihargai dan difahaminya. Kini akupun harus paham bahwa pemikiran dan perasaan perempuan itu sulit untuk dimengerti. Aishah bukan perempuan yang hanya akan meminta dikagumi dan dipahami, tapi  juga akan memberikan cinta dan perhatian yang sebanding. Aku ingin membuatnya merasa dihargai dan dicintai sebagai seorang perempuan.  Aku ingin menjadi lelaki pertama yang mengajarkannya bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan saling bicara dan mendengarkan. Aku ingin menjaga apa yang telah kutemukan kini tidak lagi hilang. Aku tak Ingin hatiku membeku kembali. Asaku bersambut. Terimakasih Aishahku.


Rabu, 08 April 2020

Cerpen: Jarum Neraka

Jarum Neraka
Ukurannya kecil. Ada tabung untuk mengisi cairan. Diujungnya ada jarum kecil yang tajam. Ya dialah jarum suntik. Benda ini sepertinya cukup familiar bagi kita, terutama bagi tenaga kesehatan, atau orang-orang yang sering sakit. Alat ini digunakan untuk memasukan cairan obat kedalam tubuh.
Tidak semua orang mampu menahan rasa ngeri ketika jarum yang tajam itu masuk kedalam tubuh kita. Termasuk diriku. Ceritanya pada waktu itu Sabtu, 23 September 1998. Pagi hari ku mengantar isteri untuk membeli sayur menggunakan motor bebek hitam kesayanganku. Lalulang lalulintas tidak begitu ramai, karena jalan yang kupergunkan adalah utama perumahan. Beberapa kendaran melintas dengan kecepatan sedang. Sesekali kulihat anak-anak baru gede boceng tiga, melaju dengan cepat tanpa memkai helm. Sepertinya mereka mengejar sesuatu. Mereka tidak tahu bahaya mengintai.
Sesampainya ditukang sayur kulihat ibu-ibu sudah mengerubungi tukang sayur. Ada yang masih memakai daster sampai yang dandanannya menor kayak artis dangdut. Hehehe...maaf ya. Ramai sekali. Disini sayuran dan lauk pauk yang dijual memang masih fresh. Isteriku memilih bebrapa sayuran segar dab lkan yang akan dimasak siang ini. Selesai sudah tugas mengantar isteriku belnja sayur dan lauk pauk. Akupun mengajaknya segera pulang.
Segera isteri naik keboncengan motor. Belanjaan sayur dan lauk aku kaitkan di pengait yang terlatak dibawan jok motor depan. Aku pun menjalankan motor dengan kecepatan biasa, sambl menikmati udara pagi yang sejuk. Kebetulan sepanjang jalan utama komplek perumahanku dipenuhi dengan pohon trembesi yang berdaun rindang. Semenatara dibawah beraneka ragam bunga mempercantik dan memperindah pandangan mata. Warna hijau, merah dan ungu bunga-bungaan mendomansi dipinggir jalan. Sampai tidak terasa sampailah simpang perempatan menuju rumahku. Aku segera mengambil jalan ke kiri ke jalan palem raya. Dan tiba-tiba.
Braaaak....sebuah motor yang dikendarai oleh anak baru gede nyelonong keluar menabrak ibu-ibu yang melewati gang tersebut. Si ibupun tak mapun mengenadlikan laju motornya, dan gubrak. Ibu itu jatuh tepat disamping motorku. Kulihat darah mengucur. Aku mencar dari mana itu keluar. Walaaah ternyata darah itu keluar dari kakiku, tepatnya di atas jempol. Luka robek menganga, terkena injakan rem motor si ibu. Sungguh pada saat itu aku tak merasakan sakit. Mungkin karena shock dan setengah sadar kali atas musibah itu. Sampai akhirnya seorang bapak menyuruhku untu segera ke klinik dokter Mursidi yang memang letaknya tidak jauh dari kejadian kecelakaan itu.
Segera ku ambil kunci motor anak yang menabrak ibu tadi. Aku paksa dia untuk ikut denganku ke Klinik untuk mempertanggung jawabkan perbutannya. Akhirnya dia pun ikut dibelakangku bersama isteriku sambil menuntun motornya. Sesampainya di Klinik, banyak orang yang ngantri berobat. Petugas administrasi seorang perempuan muda dan cantik meminta kepada pasien yang mengantri untuk memberikan kesempatan kepadaku untuk masuk ruang periksa. Mungkin karena dia meliahat kaki sudah banyak darah yang keluar dan mengenai lantai klinik.
Tiba didalam ruang periksa dokter dan perawat segera membersihkan lukaku. Terlihat luka panjang dan menganga. Dokterpun mengatakan kepadaku bahwa luka itu harus dijahit, untuk menghindari infeksi. Ketika mendengar itu ada rasa ngeri-ngeri sedap gitu. Waduuuh ...aku harus berhadapan benda tajam yang membuatku bergidik.
“Gimaana pak dijahit ya”, Kata bu dokter
“iya dok”, kataku dengan wajah pucat pasi.
“Disuntik dulu ya”. Dokter melanjutkan
“Hah disuntik?”. Tanyaku
“Iya pak , untuk menghilangkan rasa nyeri ketika dijahit” dokter cantik itupun menyiapkan jarum suntik
“Siap ya pak?” tanyanya mengagetkanku yang tengah memandang ngeri jarum suntik ditangannya.
Aku melihatnya seperti senjata rahasia dari seorang ninja yang siap melukaiku. Jarum itu seperti jarum neraka bagiku.
‘Sebentar ya dok, saya siapkan mental dulu”. pintaku
“Ya sudah jangan lama-lama 5 detik ya’ sudah siap?”
“Bentaaar doook”
“Pak cepetan mau dijahit ga? Banyak pasien yang sedang mengantri”. Tegasnya sambil mengoleskan alkohol
Mau tidak mau aku akhirnya menyetujui permintaan paksa dari bu dokter cantik itu. Aku pun pasrah ketika jarum kecil nan tajam itu menusuk kulit jempolku sebanyak tiga kali tusukan. Jeritan haluspun kutahan, karena malu sama isteriku dan pasien diluar yang pada melihat kearahku. Setelah itu jarum jahitpun kleuar masuk dengan lancar diarea luka yang menganga itu untuk kemudian dirapatkan kembali. Kudengar ngilu suara jarum jahit itu keluar masuk kedaging yang dijahit. Sret..sret. Alhamdulillah enam jahitan selesai dirampungkan oleh bu dokter. Dan akupun tidak merasakan sakit.
Akupun keluar untuk segera membayar jasa dokter dan mengambil obat. Daaan..... Al Hamdulillah orangtua anak tadi sudah datang ke Klinik dan membayar semua biaya pengobatan ditanggung olehnya.




Rabu, 01 April 2020

Cerpen: Belajar dari Burung Bangau


Belajar dari Burung Bangau 

Lembayung senja mulai menggelayuti sore yang penuh kedamaian. Semburat warna kemerahannya menggambarkan keindahan ciptaan Tuhan. Barisan burung bangau terbang membuat formasi huruf V. Kulihat bangau di depan mengepakkan sayapnya dengan penuh semangat. Dialah yang menjadi daya dukung bagi teman-teman dibelakangnya. Sementara bangau-bangau yang terbang dalam formasi mengeluarkan suara riuh-rendah dari belakang memberi semangat kepada bangau yang terbang di depan.
Sang pemimpin dengan sekuat tenaga berusaha  menjaga konsistensi kecepatan kepakan sayapnya. Dia paham betul bahwa bangau dibelakangnya tidak usah terlalu payah menembus airwall yang ada didepannya karena konsistensi gerakannya. Dialah pemimpin yang betanggung jawab dalam menempuh perjalanan kelompoknya. Dia harus memastikan bahwa jika temannya keluar dari formasi yang dibentuk, maka yang terjadi adalah kelelahan didapatnya. Dan dipastikan dia akan masuk kembali kedalam formasi V tersebut untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan bangau di depannya.  Hasilnya, seluruh kawanan angsa dapat menempuh jarak terbang 71 % lebih jauh dari pada kalau setiap angsa harus terbang sendiri-sendiri.
Ketika seekor bangau menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua bnagau lain akan ikut keluar dari formasi bersama bangau tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan bangau yang jatuh dan berusaha untuk mendorongnya agar dapat terbang lagi, tidak sampai mati. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.
Ketika sang pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan bangau lain akan terbang menggantikan posisinya. Aah begitulah...Dia harus berani mengambil resiko dan menyerahkan kepemimpinnya untuk kemaslatan bangau-bangau dibelakangnya. Ia tidak mau egois dan mengorbankan teman-temannya. Sementara sang pengganti berusaha sekuat tenaga melanjutkan estafet dari bagau didepannya yang mundur teratur. Pun begitu seterusnya sampai mereka sampai kepada tujuannya.
Ya....begitupun aku. Aku harus memberikan estafet kepemimpinanku. Dua tahun sudah aku mengemban amanah untuk menjalankan kepemimpinanku sebagai ketua RW. Sesuai kesepekatan warga bahwa kepemimpinan RW berakhir satu priode dalam satu tahun. Banyak sudah keras kerasku membangun lingkungan ke RW an. Dari kerja bakti, membangun pos ronda dan terakhir membuat balai warga yang sengaja kupindahkan samping rumahku. Kubangun ia dengan kokoh agar suatu saat nanti bisa dipergunakan warga sampai anak cucu. Dananyapun kuperoleh dari iuran warga. Siasanya aku ngutang di toko bangun koh Ahtong Ling Song. Dialah yang selalu mensuport setiap kegiatan yang dilakukan di lingkungan RW.
Kini saatnya aku bertapa, mengasingkan diri setelah membuat kebisingan. Ini kulakukan setelah aku gagal menaklukan wabah congorna yang semakin merajalela di kalangan warga. Tak peduli basar kecil, tua muda, kakek nenek semua terjangkit. Sementara hutang kepada Koh Ahtong Liong Song semakin membengkak. Ah...biaralah toh hutang itu pasti akan ditanggung oleh ketua RW berikutnya. Sama dengan burung bangau yang terbang didepan segera akan digantikan oleh bnagau dibelakngnya untuk mempertahankan konsistensi formasinya. Seperti itulah kedaanku. Padahal aku sudah berjanji kepada warga Wabah ini tak akan mampu menembus pertahanan papalng pintu RW. Aku pun meyakinkan wargaku bahwa aku bisa menghadapinya. Akan kutaklukan dengan jurus CitraLuka. Biasanya makhluk kasat mata akan tunduk kepadaku. Dia akan mengabdi kepadaku sampai akhirnya dia secara sadar ataupun tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepadaku. Walaupun  harus berdarah-darah membelaku.
Aku terkesiap ketika bidadari syurgaku menghidangkan kehadapanku semangkuk mie ayam dan segelas air jeruk hangat. Sementara sop Iga sapi disantapnya dengan lahap. Aku tersenyum hangat menyambutnya. Dialah yang selalu menemaniku dalam suka dan duka. Dialah yang selalu memperhatkan penampilanku. Baik ketika dalam bertugas maupun ketika sedang menikmati liburan.  
Semoga penggantiku lebih baik.