Tampilkan postingan dengan label RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELIGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2020

Refleksi: Teror Makhluk Tak kasat Mata


Teror Makhluk tak kasat mata.

Pandemi corona menghebohkan jagat raya. Ketakutan, kepanikan dan keputus asaan hampir menyelimuti manusia di muka bumi ini. Makhluk tak kasat mata ini berhasil memporanporandakan tatanan, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Berapa banyak negera-negara maju yang harus menggelontorkan dana tak terhitung untuk menangkis pandemi ini. Mereka mati-matian melindungi rakyatnya agar tidak terkena pandemi ini.

Kegiatan ekonomi lumpuh. Pembatasan warga umtuk beraktifitas diluar membuat kegiatan ekonomi tidak berjalan dengan semestinya. Ekonomi level atas mulai goyah. Mall tutup kerena sepi pengunjung. Pabrik-pabrik meliburkan karyawannya. Pasar tradisional mulai berkurang pengunjungnya. Para abang-abang penjual jajanan dan makanan yang biasa berkeliling komplek, tidak bisa masuk kegang-gang perumahan. Tiap gang perumahan menutup akses masuk dengan menutup portal. Otomatis kegiatan ekonomi level bawah terhenti. Kasihan, melihat abang-abang yang memikul dagangannya. Dia hanya berputar-putar, bolak-balik komplek tanpa ada seorangpun yang mau membeli. Alasannya apalagi kalau bukan takut terpapar virus corona. Padahal belum tentu mereka pembawa virus ini. Tapi mungkin, karena ada pejabat yang mengatakan bahwa orang miskin harus menjaga orang kaya agar tidak tertular wabah pandemi ini. Otomatis stigma itu akhirnya menempel pada mereka. Dan akibatnya untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan.
Bagi orang kaya, membeli bahan makanan dengan berlebihan bukan masalah bagi mereka. Bahkan diawal-awal pandemi ini menyerang Indonesia, mereka berbondong-bondong datang ke pasar swalayan dan menghabiskan stok barang yang ada. Miris...sementara diluar sana, banyak orang membutuhkan bahan-bahan makanan tersebut. Mereka justru menimbunnya. Tidak salah kemudian, salah satu artis ibukota”Aming” mengatakan bahwa bisa jadi saudara-saudara kita mati bukan karena virus ini tapi disebabkan nmereka kelaparan karena tidak ada bahan makanan.  Betul bahwa pembelian barang dapat dilakukan secara online. Disnilah diperlukan kepedulian dan kesadaran dari orang-orang kaya untuk membantu saudaranya yang miskin.

Sosialisasi antar warga secara fisik mulai terbatasi. Tidak ada salaman. Tidak adalagi cipika-cipiki. Tidak adalagi tos-tosan. Yang ada hanyalah jaga jarak aman. Satu sampai dua meter. Kayak kopaja....heheheh. Tegur sapa dengan tetangga dilakukan melalui teras rumah masing-masing. Sepi menyeruak bila malam menghampiri. Bila  ada yang terkena batuk dan flu sudah parno duluan. Disangka sudah terinfeksi dan takut tertular.


Dunia pendidikanpun terkena imbasnya. Peserta didik disuruh belajar di rumah. Guru-guru sibuk menyiapkan materi daring. Peserta didik stres, karena banyak mendapat tugas dari guru yang gagap teknologi. Orangtua pusing mendampingi anak-anaknya belajar di rumah. Mereka mulai sadar betapa susahnya menjadi guru. Meraka harus mengeluarkan “tanduk” dulu untuk menyiapkan anak-anaknya belajar. Kemarin kemana ajaaaa? mak, encang, encing, enyak, babeh. Kok baru nyadar sekarang. Heheheh....

Sementara pemerintah juga sibuk untuk mencari cara efektif selanjutnya agar pandemi ini tidak terus menyebar. Mereka berusaha memberikan arahan kepada masyarakat walau kadang terkesan blunder. Satu pejabat mengatakan A, kemudian diralat pejabat B, dan akhirnya disimpulkan pejabat C. Ketegasan pemerintah untuk menjalankan program-program pencegahan, kadang ditanggapi sebelah mata oleh sebagaian masyarakat. Mungkin komunikasi yang ga nyambung. Atau mungkin karena masyarakat indonesia yang ga mau berdisiplin dengan program yang sudah dibuat pemerintah. Akibatnya sudah bisa dipastikan, keinginan hanya tinggal keinginan. Program-tinggal program semuanya ga ada efeknya. Semakin hari, semakin bertambah korban pandemi ini.

Dari segi keagamaan juga terjadi perbedaan pandangan hukum. Salat berjamaah yang semula menjadi rutinitas muslim yang taat, kini mulai dibatasi. Bahkan sebagian wilayah sudah tidak memperbolehkan melaksankan salat berjamaah di masjid. Tidak hanya salat lima waktu yang tidak bolah berjamaah, pelaksanaan salat jumat juga ditiadakan dan diganti dengan salat zuhur di rumah. Banyak ummat Islam yang protes. Dan para ulamapun, termasuk MUI, berusaha memberikan penjelasan tentang diperbolehkannya tidak melaksanakan salat berjamaah dan salat jum’at. Dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki, mereka sampaikan dalil aqli dan dalil naqli tentang diperbolehkannya salat dirumah dan mengganti salat jumat dengan salat zuhur melalui media sosial, Youtube, WA,  dan lain-lain.

Lag-lagi sebagian ummat Islam, tetap dengan pendiriannya.  Mereka tetap melaksanakan salat berjamaah dimasjid dan juga melaksanakan salat jumat. Tentu dengan dalil-dalil yang mereka sampaikan juga. Dan tidak ada yang salah dengan mereka. Karena mereka menganggap bahwa wilayahnya bukanlah zona merah.

Akhirnya marilah kita berikhtiar sekuat tenaga agar kita terhindar dari pandemi yang sedang menyerang bangsa Indonesia ini. Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa dibalik semua ini Allah pasti mepunyai rencana yang indah. Allah sedang menguji kita agar kita menjadi orang-orang yang tawakkal. Yang selalu menggantunggantungkan seluruh hidup dan kehidupannya hanya kepada Allah. Allah menginginkan agar kita menjadi orang-orang yang ahsanu ‘amala. Orang yang paling baik amalnya. Sebagaimana terdapat dalam surat al Mulk ayat dua.

Semoga Allah segera menghilangkan pandemi ini dari bumi Nusantara dan menjadikan Indonesia sebagai baldatun toyyibatun warabbun ghafur.  


Senin, 06 April 2020

Religi: Tawakkal


Tawakkal dan Corona
Dimasa wabah corona yang masih melanda dunia, termasuk indonesia, program Pembatasan Sosial Berskala Besar, social distancing, dan selalu menjaga kebersihan adalah beberapa alternatif yang yang diwarkan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus ini lebih cepat. Sebagian dari kita sudah menjalankan anjuran itu dengan baik. Kita sudah tidak keluar rumah lagi. Stay at Home, ning omah wae, ngajedog diimah. Tentu ini membuat sebagian dari kita merasa bosan dan jenuh. Aktifitas kitapun dibatasi dengan berbagai protokol kesahatan untuk mencegah tertular virus ini.  Disinilah diperlukannya kesabaran dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah kepada kita. Butuh ikhtiar yang maksimal dalam menghindarkan diri dari takdir ketakdir yang lain. Tidak semua orang mempunyai sifat tawakal kepada Allah. Karena tawakkal ini hnaya di punyai oleh orang-orang Mukmin. 

Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tentunya banyak ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi tentang tawakal, (QS. Al Ma’idah: 11). (QS. Al Anfal : 2),  (QS. Attaubah:129, (QSYunus 84-85) dan masih banyak lagi. Demikian pula dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Definisi tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.”

Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha
Dari definisi ini menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.

Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiyar dan penyandaran diri kepada Allah.
Dikisahkan Anas bin Malik, RA, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan masjid untuk mendatangi Rasulullah. Dia mengunakan unta sebagai tunggannya. Orang tersebut kemudian melepaskan  tunggangannya begitu saja tanpa ditambat. Rasulullah bertanya, ''Mengapa unta itu tidak diikat?'' Lelaki itu menjawab, ''Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Allah SWT.'' Maka Rasulullah menegur secara bijaksana, ''Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal.'' Lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Peristiwa ini memberikan gambaran yang jelas bagaimana Rasulullah memberikan maksud  tawakal yang benar. Sesudah manusia berusaha, lalu menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah, itulah tawakal menurut ajaran Islam. 

Dalam hadis lain dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ
“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim). Tidak kita temukan seekor burung diam saja dan mengharap makanan datang sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung pergi untuk mencari makan, namun seekor burung keluar mencari makan disertai keyakinan akan rizki Allah, maka Allah Ta’ala pun memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut. Dengan menyandarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan kemudharatan, maka seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. 

Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala akan menjadikan hati kita ridha atas segala ketentuan dan takdir Allah. Kalau kita sudah berusaha secara maksimal untuk menghindar dari musibah dan kemudian musibah itu masih menimpa kita, maka kita harus menerimanya dengan ikhlas. Inilah yang harus kita jadikan pedoman. Berikhtiarlah dengan sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari yang membahayakan diri kita (termasuk mencegah diri dari wabah corona atau Covid 19). Ketika kita sudah berikhtiar dengan sekuat tenaga,  tetapi kemudian wabah itu menyerang dan mengenai kita, itulah takdir.  Dan ketika kita menerima takdir itu, maka kalaupun harus meninggal insya Allah meninggal dalam keadaan syahid. Orang-orang seperti inilahyang digambarkan nabi sebagai orang yang merasakan lezatnya iman.  Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/manisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”

Setiap hari, dalam setiap sholat, bahkan dalam setiap raka’at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya)
وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23). Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menyandarkan hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk ibadah.

Tawakal yang Salah
Persepsi kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan menyebabkan rusaknya iman kita. Tidak hnaya sampai disitu kesalahan pemahaman tawakkal ini dapat menyebabkan kesalahan fatal dalam agama. Bahkan kita dapat terjerumus dalam kesyirikan, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik asghar (syirik kecil). Contoh kesalahan dalam tawakal yang menyebabkan terjerumus dalam syirik akbar adalah seseorang bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu diwujudkan oleh Allah. Misalnya: bertawakal kepada makhluk dalam perkara kesehatan, bersandar kepada makhluk agar dosa-dosanya diampuni atau bertawakal kepada makhluk dalam kebaikan di akhirat atau bertawakal dalam meminta anak sebagaimana yang dilakukan para penyembah kubur wali. Adapus contoh jenis tawakal yang termasuk dalam syirik asghar adalah bertawakal kepada selain Allah yang Allah memberikan kemampuan kepada makhluk untuk memenuhinya. Misalnya: bertawakalnya seorang istri kepada suami dalam nafkahnya, bertawakalnya seorang karyawan kepada atasannya. Syirik akbar maupun asghar keduanya merupakan dosa besar yang tidak akan terampuni selama pelakunya tidak bertaubat darinya.

Hikmah
Dari penejelasan ini kita dapat mengambil hikmah bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Jika kita yakin bahwa Allah ta’ala yang menguasai hidup dan mati kita, mengapa kita menyandarkan hati kita kepada makhluk yang lemah yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepada kita? Cukuplah Allah sebagai pelindung kita. Tidak ada wabah apapun yang akan mengenai kita bila Allah tidak berkehendak. Berikhtiarlah dengan sekuat tenaga untuk menghindari wabah tersebut, setelah itu bertawakkallah.

Kamis, 02 April 2020

Agama: Coron adan Ahsanu 'amala




  https://cdn.pixabay.com/photo/2020/03/14/12/56/corona-4930541__340.jpg


Corona dan Ahsanu ‘amala
Manusia dalam menjalani kehidupannya pasti megalami pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih, kadang lapang kadang sempit. Kadang berada diatas dan kadang pula ada dibawah. Dan kadang kesenagan menghampiri kitabertubi-tubi. Tapi tak jarang pula musibah selalu mengikuti kita. Dan ketika musibah ini menimpa kita, teramat sedih kita rasakan. Frustasi dan emosi menyatu dalam kegalauan. Tak jarang pula kita marah pada keadaan dan menacrai-cari kesalahan mengapa musibah itu bisa datang menimpa kita. Hingga tak sedikit diantara kita berburuk sangka dan marah kepada Allah. Kita tidak sadar bahwa sesungguhnya dibalik semua peristiwa dan musibah karena Allah ingin menguji kita. Allah ingin melihat sejauh mana kita dapat menjadi hamba yang selalu memperbaiki amalan, baik dalam keadaan  sedih ataupun gembira. Allah pasti menciptakan kebaikan dalam musibah yang menimpa kita. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah. Allah menyatakan bahwa pada peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan atau musibah itu terdapat kebaikan didalamnya.
Surat an Nisa ayat 19
  فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرً۬ا ڪَثِيرً۬ا (١٩)
Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebikan ynag banyak padanya.
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ (٢١٦)
Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah maha mengetahu sedang kan kamu tidak mengetahui
Musibah adalah segala sesuatu yang tak diinginkan yang menimpa seseorang atau suatu bangsa apa pun bentuknya, sebagai sunnatullah yang berlaku atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada seorangpun atau bangsa apapun dalam kehidupan ini yang terlepas dari musibah. Ia menyertainya untuk menjadikan seseorang atau bangsa untuk menjadi lebih baik lagi. Musibah tidak hanya menimpa orang-orang yang jauh dari nilai-nilai agama saja, namun juga orang-orang mukmin dan bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya. Salah besar kalau kita masih berfikir, bahwa Allah menimpakan musibah hanya bagi orang-orang kafir saja. Masih ingatkah kita bagaimana para nabi diuji dengan berbagai  musibah. Nabi Ayub harus diuji oleh Allah dengan sakit kulit selama tujuh tahun, harta bendanyahabis terbakar, anak keturunannya meninggal dunia, dan isteri-isterinya menjauhinya. Nabi Muhammad harus kehilangan orang-orang yang dicitainya dan selalu membelanya. Khadijah Isteri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Paman yang membelanya juga kemudian menyusul isteri tercintanya. Dan masih banyak lagi kisah para nabi dan orang-orang ‘alim yang mendapat ujian berupa musibah dari Allah. Ingat Allah tidak akan memberikan ujian atau musibah, kalau hambaNya tidak dapat menanggungnya
Bangsa Indonesia, saat ini sedang mendapatkan musibah yang luar biasa sepanjang sejarahnya.  Virus ganas sebelumnya telah menghantam beberapa negara kini, mampir di negara kita tercinta. Virus yang berasal dari Wuhan China ini berhasil meluluh lantakan pertahanan kesehatan dan ekonomi dunia. Virus corona atau covid-19 membuat panik masyarakat indonesia karena penyebarannya yang luar biasa cepatnya. Tercatat sampai awal bulan April jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 1000 orang lebih. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya adalah tetap tinggal di rumah. Kalupun terpaksa, maka harus menjaga jarak dengan orang lain ketika keluar rumah atau bahasa kulonnya social distancing.
Sungguh ini adalah musibah yang mau tidak mau harus kita hadapi bersama. Kesadaran kita untuk mengikuti anjuran pemerintah akan sangat membantu untuk menahan laju penyebarannya.  Tentu ini semua membutuhkan kesabaran. Kita tidakboleh putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama. Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap kita harus bersabar terhadap rasa bosan dan lelah  yang kita emban dan selalu berada dalam koridor agama.  Ingatlah orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah, malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah.
Renungkanlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi)
seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan balasan pahala dari Allah, disertai dengan perasaan tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah, maka Allah akan memberikan petunjukNya dan menggantikan musibah dengan sesuatu yang lebih baik baginya.
Inilah sikap seorang kita sebagai mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Kita akan menyerahkan semua urusan hanya kepada Allah serta terus menambah ketaatan kepadaNya. Semakin banyak musibah itu menimpa kita, maka semakin bertambah pula ketaatan kita kepada Allah. Amalan-amalan  disertrai dengan usaha yang maksimal untuk keluar dari musibah menjadi penyemangat bagi kita. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut.
Dengan demikian, tak ada musibah yang diturunkan Allah dengan sia-sia. Sebab, Allah s.w.t. Maha Adil dengan menyiapkan hikmah di baliknya. Yakinlah, bahwa musibah diturunkan Allah untuk menyucikan jiwa kita dari dosa dan maksiat. Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya yang ditimpa musibah. Selain itu, musibah juga merupakan pelajaran bagi kita agar dapat berempati terhadap sesama dan selalu mensyukuri nikmat Allah.